Kesehatan seksual menjadi perhatian bagi semua kalangan, bukan wanita saja melainkan laki-laki harus memahami disfungsi seksual pada pria dengan baik. Para pria sering merasa resah apabila risiko disfungsi seksual mengintai kesehatan mereka. Bukan hanya menurunkan harga dirinya saja, namun akan menghambat proses kepuasan seksual.

Baca juga: Disfungsi Ereksi ( Impotensi )



Penyebab Terserangnya Disfungsi Seksual Pada Pria

Disfungsi seksual bahkan masih menempati tingkat atas penyebab buruknya kesehatan seksual yang terjadi pada kalangan pria paruh baya. Namun tahukan Anda bahwa disfungsi seksual dapat dicegah dengan cara melakukan proses foreplay sebelum proses bercinta di jalankan? Banyak sumber yang mengatakan bahwa masalah disfungsi seksual pada pria harus dihadapi dengan kepala dingin, Anda bisa membangun nuansa mesra dengan melakukan foreplay bersama pasangan.

Ketika pria bertambah usia, hal pertama yang harus diperhatikan yakni mengenai kemampuan ereksinya. Apalagi bagi pasangan lanjut usia, penting memahami bagaimana penuaan yang mereka alami akan mempengaruhi hubungan bersama pasangan.

Sebab walau bagiamanapun, seks tidak berupa kepuasan fisik saja. Membangun hubungan yang romantic melalui hati memang harus di jalankan. Saling memahami mengenai kebutuhan serta kesehatan menjadi hal utama yang harus diperhatikan.

Dibandingkan menggunakan beberapa alat yang memberikan efek samping pada kesehatan, akan lebih baik jika Anda membangun gairah seksual secara bertahap dengan cara foreplay. Metode ini akan mempertahankan gairah seksual, sehingga akan menghambat terjadinya disfungsi seksual pada pria.



Perubahan Pada Kalangan Pria Disfungsi Seksual

Ereksi melemah penis dapat terjadi karena kerja jantung dan otak yang saling berhubungan. Otak akan berperan sebagai rangsangan seks, dan sinyal tersebut akan diteruskan kejantung supaya mengalirkan lebih banyak darah untuk mengisi penis. Pria yang berumur sering berhadapan dengan masalah penis yang kurang keras walau sudah terjadi ereksi.

Sebenarnya ini merupakan hal normal karena penuaan menyebabkan kumpulan saraf pada penis menjadi kurang peka terdapat rangsangan. Seiring bertambahnya usia, kadar testosterone yang dihasilkan oleh tubuh menjadi turun. Penis yang tidak begitu keras tak selalu mempunyai arti Anda mengalami disfungsi seksual atau impotensi.

Namun kecemasan seperti kekhwatiran, stress mengenai masalah ini secara tak langsung akan mempengaruhi kerja otot yang sudah menua, sehingga tidak mampu menampung aliran darah yang berkumpul ketika proses ereksi, jadi pada akhirnya penis menjadi lebih mudah lemas.

a. Rentan ejakulasi

Penyakit ejakulasi dini menjadi masalah seks paling umum yang terjadi pada kalangan pria. Risiko masalah ini akan meningkat seiring seseorang melalui proses penuaan. Banyak hal yang bisa menyebabkan ejakulasi dini terjadi. Mulai dari psikis seperti stres, cemas, depresi, hingga masalah kesehatan yang mempengaruhi lainnya. Perubahan fungsi fisiologis penis terkait penuaan dapat menjadi risiko kondisi disfungsi seksual pada pria. Otot pada penis pria tua akan membuat sperma keluar lebih cepat dari yang diharapkan.

b. Minat Hubungan seksual berkurang

Efek samping dari penggunaan obat seperti tekanan darah, antidepresan, dan lain sebagainya bisa mneurunkan gairah seksual. Kondisi tersebut akan membuat hubungan seks menjadi kurang nikmat, sehingga Anda tidak begitu berminat untuk bercinta dengan pasangan.

Diatas merupakan beberapa faktor yang mendasari terjadinya disfungsi seksual kepada seorang pria, namun masalah ini tidak hinggap pada pria lanjut usia saja, maka Anda harus memperhatikan kesehatan dengan baik. Bagi Anda yang mengalami tanda dan gejala diatas bisa segera memperoleh penanganan dengan mudah bersama kami di Klinik Utama Gracia. Lakukan reservasi dengan mudah melalui nomer 085714263063, sekian mengenai disfungsi seksual pada pria, semoga bermanfaat.

Baca juga: Penyebab Ejakulasi Dini


Panduan Penting

Perlu Anda ketahui bahwa setiap artikel ataupun tips yang Kami sediakan di website klinikpenyakitkelamin.com hanya merupakan referensi dan harap tidak dijadikan sebagai panduan medis yang mutlak.

Sehingga ada baiknya konsultasikan kondisi medis yang Anda alami dengan dokter profesional agar penyakit Anda bisa terpantau dan disembuhkan dengan baik.